Sabtu, 23 Maret 2013

TUGAS KULIAH 1 ENTREPRENEURSHIP


Chairul Tanjung Si Anak Singkong


Chairul Tanjung si anak singkong, demikian judul buku biografi yang disusun oleh Tjahja Gunawan Diredja. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang anak muda yang lahir dari keluarga sederhana dan memiliki banyak impian. Dalam buku Chairul Tanjung si anak singkong pun dijelaskan gambaran seorang anak yang sangat menghargai dan menghormati perjuangan orang tuanya dalam mendidik dan mendukungnya dalam karir.

Chairul Tanjung Profil

Chairul Tanjung lahir di Jakarta pada tanggal 16 juni 1962. Chairul Tanjung memiliki enam saudara.  Ayahnya berprofesi sebagai wartawan pada zaman orde lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil. Kegiatan dunia jurnalisme dan percetakan ayahnya terpaksa harus dihentikan dan ditutup penguasa ketika memasuki zaman orde baru. Hal itu dikarenakan percetakan yang dikelola ayahChairul Tanjung dianggap berseberangan secara politik. Imbas dari penutupan percetakan tersebut menjadikan perekonomian keluarga Chairul Tanjung terjepit yang akhirnya memaksa orang tuanya menjual rumah satu-satunya yang mereka miliki dan pindah ke tempat yang lebih kecil.
Di tahun 1981 Setelah menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi Utomo, Chairul Tanjung kemudian melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia jurusan kedokteran gigi. Karena keterbatasan keuangan Sang Ibunda Hj Halimah rela menggadaikan kain batik halus miliknya untuk membiayai Chairul Tanjung masuk ke universitas.
Dalam perjalanan studinya di bangku universitas Chairul Tanjung tergolong anak yang mandiri. Hal itu dibuktikan dengan tekadnya untuk membiayai uang kuliahnya sendiri. Hal itu dilakukan karena semua harta berharga milik ibunya habis untuk membiayai kuliah.

Chairul Tanjung Corporation

Kini Chairul Tanjung menjadi sosok yang patut di jadikan contoh dalam dunia wirausaha. Keberhasilannya dalam dunia bisnis tak perlu di ragukan lagi. Ia memiliki Chairul Tanjung Corporation / CT Corp. CT Corp terdiri atas tiga perusahaan subholding, yaitu Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources.
Mega Corp adalah perusahaan induk untuk jasa keuangan yang melayani masyarakat di sektor perbankan, asuransi, pembiayaan, dan pasar modal. Trans Corp adalah perusahaan induk yang bergerak di bisnis media, gaya hidup, dan hiburan. Sedangkan CT Global Resources adalah perusahaan induk yang fokus pada bisnis perkebunan.
Perlu diingat, kisah sukses Chairul Tanjung saat ini tidak terlepas dari prinsip yang dimiliki oleh orang tuanya. Orang tuanya menekankan untuk terlepas dari jeratan kemiskinan, pendidikan merupakan salah satu jalan yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya.


Chairul Tanjung Si Anak Singkong: Ini 5 Kesan Pribadi SBY Tentang CT
Arief Budisusilo
Minggu, 01 Juli 2012 | 11:39 WIB


BANDUNG-Ternyata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemilik CT Corporation Chairul Tanjung sudah bersahabat sejak lama. Lantas apa saja kesan pribadi Presiden SBY terhadap sosok CT?

Inilah lima kesan pribadi Presiden SBY yang dikemukakan saat memberikan sambutan pada Jamuan Makan Malam dan Peluncuran Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong dalam rangka ulang tahun ke-50 CT di Trans Luxury Hotel, Bandung, Sabtu (30/6) malam:

1. CT pintar menjaga persahabatan, baik dengan temannya yang masih berkuasa maupun yang sudah tidak lagi berkuasa. "Dengan Pak Try, Pak Chairul masih bersahabat dengan baik," kata SBY.

2. CT dinilai profesional. SBY menyebut sosok Chairul selalu mengedepankan prinsip  "Do the best" dan "Just to do his bests". Selalu melakukan yang terbaik. "Bukan sekadarnya, tetapi ingin meraih yang terbaik, dengan melakukan yang terbaik," tutur SBY.

3. CT keras dalam cita-cita dan keras dalam bekerja. Ia mampu memadukan kekuatan cita-cita dan pikiran dengan kerja keras. "Dan Pak Chairul sanggup mencapai cita-cita itu," kata SBY. 

Presiden pun berkisah saat tahun 2008 merancang 100 Tahun Kebangkitan Nasional, dan ketemu dengan tagline baru: Indonesia bisa. Setelah itu bertemu lagi merancang masa depan Indonesia, SBY menjelaskan, yang antara lain keluar konsep Indonesia 2025 dan masterplan Indonesia 2025. "Itu semua menunjukkan Pak Chairul trully a man of ideas and a man of hardwork," SBY menyimpulkan.

4. CT pengusaha yang jenius dan handal. "Beliau berfikir besar dan berfikir mendahului. Think Big, think ahead of time. Ini paduan ideas, ideals dan hardwork. Ini yang mendasari pencapaian Pak Chairul," jelas SBY.

5. CT sebenarnya kritis. "Ini yang tidak diketahui publik. Pak Chairul mengkritik kalau saya kurang tepat, kurang bagus, dan saya dengar dengan seksama. Kadang kritiknya tajam, dan saya jelaskan, untuk hal-hal tertentu ada kompleksitas, dan Bung CT mengerti. Ini bagus. Pak Chairul mau mendengar penjelasan. Kalau mengkritik nggak mau mendengar, ini tidak bagus."


Lantas apa sisi yang kurang dari CT menurut SBY? Untuk urusan yang kurang-kurang ini, SBY merasa tidak punya bakat mengkritik atau menghujat.

"Saya tidak berani mengkritik atau menghujat kepada seseorang. Siapa tahu setelah saya mengkritik atau menghujat, ternyata saya lebih buruk dari dia...Jadi kekurangan Pak CT beliau sendirilah yang tahu," katanya.

Kesan pribadi SBY terhadap CT itu, seperti tergambar dalam buku biografinya, muncul lantaran Chairul besar sebagai pengusaha berangkat dari bawah dengan latar belakang keluarga sederhana. Bahkan dilukiskan, untuk membayar biaya studi tour Rp15.000 saat bersekolah di SMA, Chairul tidak mampu.

Sejak mahasiswa, CT sudah membiayai pendidikannya dengan memadukan seni entrepreneurial dalam dirinya, yang berkembang sampai sekarang. "Semua karena kerja keras dan berkat dari yang di atas," katanya. 


ISI SINGKAT BUKU CHAIRUL TANJUNG SI ANAK SINGKONG
·         Isi Singkat Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong - Cara TErbaru kali ini akan update sebuah berita yang mungkin hampir semua orang tau, ya begitulan buku yang telah memenangkan Book Of The Year 2012 ini. Berbagai Media Online maupun Tv sering sekali ditampilkan dengan memakai beberapa model artis terkenal dan kita mendengar Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong dan membuat kita merasa penasaran hususnya saya sendiri sebagai admin cara terbaru, ya walalupun belum sempat membeli tapi saking ku penasarannya sampai cari cari info di internet mengenai buku ini, dan kali ini sedikit mereview saja dari informasi yang telah terbaca sama admin. Berikut isi atau ulasan singkat mengenai Buku Si Anak Singkong ini : Kembali ke laptop, kata Tukul. Hehehe….maksud saya kembali ke perihal buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Buku ini ditulis Tjahja Gunawan Diredja yang juga wartawan Harian Kompas.  
·          
Buku ini diberi kata pengantar oleh Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum Harian Kompas. Buku ini mengisahkan penggalan perjalanan pahit getir dan jatuh bangunnya Chairul Tanjung alias CT sebagai pengusaha yang merintis usaha dari nol tanpa fasilitas dari pemerintah. Buku yang terdiri 384 halaman ini juga dilengkapi sejumlah foto yang mengisahkan berbagai aktivitas bisnis maupun kegiatan sosial CT.

Termasuk beberapa foto saat CT masih remaja. Pada buku ini antara lain memaparkan bahwa dalam usia 50 tahun, CT telah berhasil menjadi tokoh sukses di berbagai bidang. Terutama pada bidang bisnis properti, perbankan, asuransi, perhotelan, pasar modal, dan media massa. Total asetnya pun kini bernilai triliunan rupiah. Majalah Forbes, sebuah majalah bisnis dan finansial Amerika Serikat yang didirikan pada 1917 oleh BC Forbes, pada Maret 2012 mengeluarkan daftar 1.226 orang terkaya di dunia. Sebanyak 17 di antaranya adalah orang Indonesia. Nah, nama CT termasuk di antara 17 nama itu.

Tepatnya pada urutan 634 orang terkaya di dunia. Kekayaan pribadi CT disebut mencapai dua miliar dolar AS atau setara Rp 18 triliun (kurs: 1 dolar AS = Rp 9.000). Padahal, CT bukan berasal dari keluarga anak konglomerat. Juga bukan anak jenderal. Bos CT Corp (Chairul Tanjung Corpora) yang menaungi puluhan perusahaan ini mengaku sebagai anak dari keluarga sederhana. Ayahnya, AG Tanjung, adalah wartawan sekaligus pengelola surat kabar beroplah kecil sejak Orde Lama. Namun saat Orde Baru berkuasa, surat kabar yang dikelola ayahnya itu kemudian dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Kondisi ini membuat orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal. Masa kecil CT dilewati di Gang Abu, Batutulis, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Katanya, pada tahun 1970-an, merupakan satu di antara kawasan terkumuh di Jakarta. Jalanan tanah, becek, dan banjir kala hujan. Semua rumah di kawasan ini merupakan rumah petak kecil, beratap pendek, dinding tambal sulam, dan tak ada bangunan bertingkat. Kondisi keuangan orangtua CT pun saat itu terbatas. Ibu CT, Halimah, sampai harus menggadaikan kain halus miliknya untuk membiayai kuliah pertama CT di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI). Namun sadar dengan keterbatasan keuangan orangtuanya, Chairul tumbuh menjadi anak yang kreatif, pekerja keras, dan mandiri sejak muda. Kini ia pun menuai hasilnya. Masa Mahasiswa Di buku ini juga mengisahkan bahwa sejak kuliah di FKG UI, CT pun harus mencari sendiri uang agar bisa membiayai kebutuhan kuliahnya. Di awali dengan membuka usaha fotokopi di kampusnya. Lalu masuk ke bisnis alat-alat kedokteran gigi untuk memenuhi kebutuhan rekan-rekannya. Sembari menjalankan bisnis di kampus, CT juga aktif dalam urusan gerakan kemahasiswan. Buktinya ia sempat dipercaya sebagai Ketua Ex-Officio Dewan Mahasiswa UI. Lalu pada 1984, ia terpilih menjadi Koordinator Mahasiswa se-Jakarta. Pada tahun yang sama, ia juga terpilih sebagai mahasiswa teladan tingkat nasional. Saat mahasiswa, ia dan rekannya terlibat dalam gerakan menolak militerisme masuk UI dengan menggelar mogok kuliah. Tak hanya menggembok, tapi juga mengelas pintu masuk fakultas. Pasalnya, saat itu terdengar isu bahwa Mayjen TNI Nugroho Notosusanto akan diangkat Rektor UI menggantikan Prof Dr Mahar Mardjono. Selepas kuliah, CT pernah mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya pun semakin berkembang. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank Mega. Di bidang bisnis bidang penyiaran dan multimedia, ia juga sukses membesarkan Trans TV. Lalu membeli TV7 dan mengubah namanya menjadi Trans7. Lalu membuat Trans Studio. Satu di antaranya adalah Trans Studio Mall yang ada di Makassar. Pada 1 Desember 2011, Chairul meresmikan perubahan nama Para Grup menjadi CT Corp. CT adalah singkatan dari namanya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar